Abstract
Seorang anak laki-laki 12 tahun datang dengan keluhan penglihatan kabur. Keluhan dialami sejak 8 tahun yang lalu dan makin lama makin memburuk. Dari anamnesis diketahui bahwa ayah dan kakak perempuannya mengalami glaukoma sekunder akibat aniridia. Pemeriksaan visus 6/45 cc S-2,00D menjadi maksimal 6/20 untuk mata kanan dan 6/20, cc S-1,75D menjadi maksimal 6/12 untuk mata kiri. Kamera okuli anterior dalam dan jernih, diameter pupil 9 mm dengan iris yang hampir tidak terlihat dan ditemukan katarak subkapsular. Rasio cup-disc mata kanan 0,5 dengan tanda papil glaukomatosa dan mata kiri 0,4 tanpa tanda papil glaukomatosa. Tekanan intraokular mata kanan 36 mmHg dan mata kiri 31 mmHg. Pemeriksaan gonioskopi menunjukkan kedua mata memiliki sudut tertutup. Rerata ketebalan retinal nerve fiber layer 103,82 mm dan 90,42 mm untuk mata kanan dan kiri. Pemeriksaan lapang pandang didapatkan mata kanan depresi umum sangat berat dengan defek arkuata inferior dengan kepekaan sentral sangat rendah, mata kiri depresi umum berat dengan defek nasal. Tatalaksana awal yang diberikan adalah tetes mata timolol 0,05% dilanjutkan trabekulektomi. Komplikasi pasca operasi berupa kamera okuli anterior flat berhasil diterapi dengan injeksi natrium hialuronat 1,5% intrakamera. Tekanan intraokular turun segera pada hari pertama pasca operasi dan terus terjaga hingga 6 bulan pasca operasi.