Abstract
Gempa Lombok 2018 mengakibatkan kerusakan pada bangunan gedung dan rumah di sebagian besar wilayah Pulau Lombok termasuk di kota Mataram. Kerusakan dan keruntuhan bangunan akibat gempabumi terjadi karena bangunan tidak mampu mengantisipasi getaran tanah ( ground motion ) Peak Ground Acceleration (PGA) yang ditimbulkannya. Besarnya getaran tanah akibat gempabumi dipengaruhi oleh tiga hal, sumber gempa ( source ), jalur penjalaran gelombang ( path ), dan pengaruh kondisi tanah setempat ( site ). Oleh karena itu, dalam perencanaan bangunan tahan gempa salah satu parameter yang dibutuhkan adalah respon dinamis lapisan tanah yaitu percepatan di batuan dasar ( Peak Ground Acceleration atau PGA) dan percepatan puncak di permukaan tanah ( Peak Surface Acceleration atau PSA). Respon dinamis tanah tergantung dari jenis tanah atau batuan pada tiap daerah setempat. Analisis dinamis dilakukan menggunakan bantuan program NERA ( N on-Linier E arthquake site R esponse A nalysis ). Tanah dimodelkan berperilaku equivalent linier model yaitu menggunakan pendekatan model modifikasi Kelvin-Voight. Data accelerograf menggunakan event gempa El-Centro 1940 yang telah disesuaikan dengan event gempa Lombok 2018 di kota Mataram dengan PGA pada batuan dasar 0,4g dan redaman 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai percepatan puncak maksimum di permukaan tanah (PSA) adalah antara 0,74 g sampai dengan 0,77g. Nilai PSA ini sedikit lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai respon spektrum berdasarkan SNI 1726-2019 yaitu sebesar 0,8g pada tanah sedang.
Concepts :
Access to Document
SDGs
Citations by Year
| Year | Count |
|---|---|
| 2021 | 0 |