Abstract
Sebagai sebuah kesenian tradisional, Kemidi Rudat dalam proses pertunjukannya tidak dapat dilepaskan dari kepercayaan masyarakat (takhayul) akan adanya kekuatan ghaib yang dapat mendukung atau bahkan mengganggu jalannya pertunjukan Kemidi Rudat. Pertunjukan Kemidi Rudat, terutama yang berkembang di daerah Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, khususnya di desa Terengan dalam proses pertunjukannya, baik sebelum maupun saat pertunjukan memiliki takhayul sebagai berikut: Tidak boleh ”kumpul” dengan istri pada malam sebelum pertunjukan diselenggarakan; Dalam pertunjukan, harus memakai kacamata hitam; Pertunjukan Kemidi Rudat harus menghadap selatan. Takhayul tersebut akan dikaji dalam penelitian ini dengan menggunakan pendekatan kosmologis. Dalam pandangan kosmologis, takhayul-takhayul di atas adalah keyakinan yang didasari proses komunikasi antara manusia dengan alam. takhayul pertama ini membuktikan kesadaran manusia sasak, khususnya masyarakat pendukung Kemidi Rudat ini akan dirinya sebagai hamba Allah (panjak) atau memiliki kesadaran kehambaan. Memakai kacamata hitam merupakan aktualisasi daya rohani yang melahirkan berbagai keahlian, khusuisnya di bidang seni sebagai bagian eksistensi sebuah bangsa. pertunjukan Kemidi Rudat yang harus menghadap ke selatan, dalam hal ini disebut daya, dalam pandangan kosmologis merupakan upaya untuk menghadap pada kebesaran Allah yang memiliki daya tak terhingga dengan mencoba menaklukkan secara spiritual penghalang menuju pada kebesaranNya. Pertunjukan Kemidi Rudat pada akhirnya adalah pertunjukan untuk melahirkan kesadaran; kesadaran sebagai hamba Allah dan menjadi manusia yang terus menerus menebar kebaikan dan kebermanfaatan bagi sesama manusia, kebaikan dan kebermanfaatan bagi alam, dan kemuliaan kehidupan.