Abstract
Pada pemijahan ikan badut dibutuhkan sebuah perlakuan pada manipulasi tempat asal ikan badut untuk melakukan pemijahan pada wadah budidaya. Substrat genteng dan keramik cocok untuk penempelan larva ikan badut karena tekstur dari ke dua substrat tersebut keras, hal ini menunjukkan bahwa jenis substrat keras akan dapat di jadikan tempat hidup ikan badut, karena sifat ikan badut harus tumbuh dan berkembang dalam substrat keras. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari perbedaan kelangsungan hidup larva ikan badut pada substart berbeda. Penelitian ini dilakukan selama 45 hari, terhitung mulai tanggal 1 september sampai tanggal 15 oktober 2021 di Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok (BPBLL). Metode yang di lakukan dalam penelitian adalah dengan menggunakan metode eksperimen dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan 3 kali ulangan, yaitu P1 (substrat keramik), P2 (substrat genteng), P3 (substrat paralon), P4 (substrat gerabah). Hewan uji yang di gunakan pada penelitian ini adalah indukan ikan badut (Amphiprion ocellaris) jantan dan betina yang berumur berkisar antara 4-5 tahun. Berdasarkan penelitian yang sudah di lakukan terdapat hasil fertilisasi P1= 88.67%, P2= 94.17%, P3= 83.83%, P4= 78.67%. Sedangkan hasil daya tetas P1= 88.67%, P2= 94.17%, P3= 83.83%, P4= 78.67%. Dan hasil dari kelangsungan hidup P1= 82.15%, P2= 82.84%, P3= 80.94%, P4= 80.11%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penggunaan substrat keramik, genteng, paralon, dan gerabah memberikan pengaruh terhadap fertilisasi dan daya tetas telur ikan badut. Kelangsungan hidup tidak berpengaruh nyata terhadap penggunaan substrat pada pemijahan ikan badut.