Abstract
Demam adalah kondisi tubuh dengan suhu di atas normal yakni ± 37℃ sebagai respon terjadinya infeksi. Apabila tidak segera ditangani demam dapat menimbulkan dehidrasi, kekurangan oksigen, pusing, anoreksia, lemas, nyeri otot, bahkan yang terburuknya kerusakan saraf otak, epilepsi, hingga kematian. Untuk meminimalisir dampak tersebut, demam dapat diatasi oleh antipiretik seperti parasetamol. Akan tetapi, penggunaan parasetamol dalam jangka waktu yang panjang atau dengan dosis yang berlebihan menyebabkan hepatotoksisitas, nekrosis hepar, nekrosis tubuler ginjal, dan koma hipoglikemik. Oleh karena itu, perlu dikembangkan alternatif obat herbal dalam mengatasi demam. Suku Sasak sebagai suku asli yang mendiami pulau Lombok memiliki alternatif pengobatan lain yaitu menggunakan daun banten (Lannea coromandelica (Houtt.)Merr.) sebagai obat tradisional dalam meyembuhkan demam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar kandungan serta kemampuan antipiretik ekstrak etanol daun banten. Ekstrak daun banten didapatkan dengan cara ekstraksi menggunakan etanol. Pengujian efek antipiretik menggunakan lima kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, kelompok uji ekstrak etanol daun banten dosis 1 mg/25gBB, 3 mg/25gBB, dan 10 mg/25gBB. Induksi demam dilakukan menggunakan vaksin DPT-HB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar kandungan senyawa ekstrak etanol daun banten menggunakan spektrofotometri UV-Vis terdiri dari flavonoid sebesar 572.38 mg QE/gram ekstrak, fenol sebesar 200.82 mg GAE/gram ekstrak, dan antioksidan dengan DPPH sebesar 2,5063 mg GAE/gram ekstrak, sehingga persentase inhibisi antioksidan pada daun banten berada di antara 9,68% - 47, 16%. Seluruh kelompok uji ekstrak etanol daun banten memiliki aktivitas antipiretik. Dosis 3 mg/25gBB menunjukan efek antipiretik yang menyamai parasetamol. Kemudian dosis 10 mg/25gBB memiliki efek antipiretik yang hampir sama dengan parasetamol di 5 jam setelah perlakuan.