Abstract
Penelitian ini mengkaji mengenai peminjaman panda oleh Tiongkok sebagai upaya diplomasi dan citra negaranya. Oleh sebab itu, ketika panda mulai menjadi komoditas yang menguntungkan, Tiongkok mulai meminjamkan panda untuk konservasi di berbagai negara disertai dengan beberapa kesepakatan, salah satunya dengan Jerman. Penggunaan panda sebagai alat diplomasi ke Jerman telah dilakukan Tiongkok sejak tahun 1980 hingga 2017. Pada kurun waktu tersebut, kedua negara telah menghasilkan kesepakatan peminjaman panda yang krusial. Penelitian ini bertujuan untuk mempertanyakan sejauh apa panda dapat menjaga hubungan Tiongkok dan Jerman. Untuk menjelaskan implementasi diplomasi panda Tiongkok di Jerman, penulis menggunakan konsep soft power yang dikemukakan oleh Joseph Nye Jr. dan konsep hubungan bilateral. Berdasarkan konsep soft power, penulis menggunakan tiga indikator, yaitu budaya, institusi politik, dan kebijakan luar negeri. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, di mana hasil penelitian menunjukkan bahwa diplomasi panda mampu menjaga hubungan bilateral Tiongkok dan Jerman.