Abstract
Artikel ini mengkaji representasi subalternitas dalam naskah monolog Balada Sumarah karya Tentrem Lestari, dengan fokus pada perjuangan seorang perempuan bernama Sumarah yang terpinggirkan akibat stigma politik dan sosial yang melekat pada keluarganya, khususnya setelah peristiwa G30S/PKI. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana kelompok subaltern, dalam hal ini Sumarah, berusaha untuk berbicara dan mendapatkan keadilan dalam sistem yang menindas. Pendekatan kualitatif dengan analisis teks digunakan untuk mengidentifikasi dinamika kekuasaan, kekerasan struktural, dan relasi dominasi yang tercermin dalam cerita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Sumarah berusaha melawan stigma melalui pendidikan, pekerjaan, dan upaya berbicara di persidangan, suara dan perjuangannya tetap terabaikan oleh sistem sosial yang ada. Kematian Sumarah menjadi titik akhir yang mencerminkan ketidakmampuan struktur sosial dalam memberikan ruang bagi kelompok subaltern untuk berpartisipasi dalam wacana dominan. Penelitian ini juga mengungkapkan bagaimana Balada Sumarah menggambarkan kekerasan simbolik dan pengucilan sosial sebagai bentuk penindasan yang berkelanjutan terhadap kelompok marjinal.
Concepts :
Citations by Year
| Year | Count |
|---|---|
| 2025 | 0 |