Dari Lisan ke Literasi: Meningkatkan Kapasitas Belian Sasak dengan Pendekatan Riset dan Teknologi

Authors : Faizul Bayani; Nora Listantia; Hulyadi Hulyadi; Muhali Muhali; Ahmadi Ahmadi et al.
article cite 0 Year 2025
source: Lumbung Inovasi Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Abstract

Belian Sasak merupakan penjaga utama praktik pengobatan tradisional di Lombok yang diwariskan secara lisan dan berbasis kearifan lokal. Namun, modernisasi dan perubahan lingkungan mengancam keberlanjutan pengetahuan tersebut. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Belian Sasak melalui pelatihan berbasis riset mengenai pemanfaatan tanaman obat, terutama dalam penanganan penyakit seperti tuberkulosis. Sebanyak 20 peserta mengikuti kegiatan ini. Evaluasi dilakukan melalui pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta. Hasil pretest menunjukkan rata-rata skor sebesar 56,3, sedangkan hasil posttest meningkat secara signifikan menjadi 84,7, dengan selisih peningkatan 28,4 poin atau peningkatan relatif sebesar 50,4%. Pelatihan meliputi identifikasi morfologi tanaman, pengenalan bagian tanaman yang mengandung senyawa aktif, serta teknik pengeringan berbasis ilmu pengetahuan modern. Ditemukan bahwa sebagian belian telah mengadopsi metode ilmiah, namun masih terdapat variasi signifikan dalam praktik pengeringan dan penggunaan media, yang menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan. Oleh karena itu, kolaborasi partisipatif antara sains modern dan kearifan lokal menjadi kunci untuk pelestarian budaya, penguatan literasi kesehatan, dan perlindungan pengetahuan komunal. Program ini menegaskan pentingnya dokumentasi dan integrasi pengetahuan tradisional agar pengobatan tradisional tetap relevan, adaptif, dan berbasis bukti ilmiah. From Oral to Literacy: Increasing Sasak Purchasing Capacity with Research and Technology Approaches Abstract Belian Sasak are the main guardians of traditional healing practices in Lombok that are passed down orally and based on local wisdom. However, modernization and environmental changes threaten the sustainability of this knowledge. This Community Service Program (PKM) aims to increase the capacity of Belian Sasak through research-based training on the use of medicinal plants, especially in treating diseases such as tuberculosis. A total of 20 participants took part in this activity. Evaluation was carried out through pretests and posttests to measure the increase in participants' understanding. The pretest results showed an average score of 56.3, while the posttest results increased significantly to 84.7, with a difference of 28.4 points or a relative increase of 50.4%. The training included identification of plant morphology, recognition of plant parts containing active compounds, and drying techniques based on modern science. It was found that some belian had adopted scientific methods, but there were still significant variations in drying practices and media use, indicating a knowledge gap. Therefore, participatory collaboration between modern science and local wisdom is key to preserving culture, strengthening health literacy, and protecting communal knowledge. This program emphasizes the importance of documenting and integrating traditional knowledge to keep traditional medicine relevant, adaptive, and evidence-based.


Concepts :
Ethnobotanical and Medicinal Plants Studies
Mangiferin and Mango Extracts
Cultural and Religious Practices in Indonesia
article cite 0 Year 2025 source Lumbung Inovasi Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
SDGs
Quality Education
Citations by Year
YearCount
2025 0