Abstract
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk membangun kesadaran dan memperkuat internalisasi nilai-nilai moderasi beragama di kalangan pemuda Karang Taruna Maitamara Desa Teniga, Kabupaten Lombok Utara. Kondisi sosial Desa Teniga yang berada dalam ruang perjumpaan komunitas lintas agama (Islam, Hindu, dan Buddha) menuntut kapasitas pemuda sebagai agen kerukunan sosial. Program ini menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif melalui metode ceramah interaktif, Focus Group Discussion (FGD), simulasi dialog lintas agama, serta refleksi kelompok untuk menguatkan pemahaman peserta terhadap prinsip moderasi beragama yang meliputi toleransi, komitmen kebangsaan, anti-kekerasan, dan penerimaan tradisi lokal. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman konseptual dan sikap sosial peserta. Sebelum program, sebagian besar peserta memahami toleransi sebatas praktik sosial sehari-hari, namun belum memiliki kerangka teoretis moderasi beragama. Setelah kegiatan, peserta menunjukkan sikap lebih terbuka terhadap perbedaan, peningkatan kesadaran terhadap pentingnya harmoni sosial, serta komitmen untuk menjadi pelopor kerukunan di tingkat desa. Program ini memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan sosial berbasis komunitas pemuda dan berpotensi direplikasi di desa-desa multikultural lainnya di wilayah Nusa Tenggara Barat sebagai model penguatan perdamaian sosial dari tingkat akar rumput.